13010114120005
Konon,
ketika Raden Pandan Arang mengadakan pertemuan dengan para santri dan abdi
dalem, Raden Pandan Arang atas saran para pengikutnya, berkeinginan melakukan
perjalanan ke wilayah selatan Semarang.
Dengan
berbekal secukupnya, Raden Pandan Arang dengan tidak kurang dari lima puluh
orang santri dan abdi dalem berjalan ke arah selatan. Karena medan yang mereka
tempuh naik turun gunung atau perbukitan, perjalanan mereka tidak selancar ketika
melakukan perjalanan ke arah barat. Namun, mereka semua bergembira dan tidak
nampak keletihan.
Mereka
semua terhibur oleh indahnya panorama alam yang mereka saksikan. Dari salah
satu bukit yang mereka lalui, tampak di kejauhan Laut Jawa yang membiru.
Pemandangan seperti itu belum pernah mereka saksikan dalam perjalanan mereka
sebelumnya.
Mengetahui
kegembiraan dari para pengikutnya, Raden Pandan Arang berpesan, “Betul. Saya
pun merasakan demikian. Ternyata, alangkah indahnya wilayah kita. Oleh karena itu,
jagalah semua itu. Jangan saudara-saudara cemari dengan perbuatan-perbuatan
yang tidak terpuji. Misalnya, menebangi pohon. Laut yang membiru seperti itu
jangan dicemari sampah-sampah di tepinya atau sungai yang mengarah ke sana.”
Tidak
berapa jauh dari tempat Raden Pandan Arang dan para pengikutnya beristirahat,
ada sebuah perkampungan yang sudah cukup banyak penduduknya. Kehidupan mereka
amat rukun. Dari sisi ekonomi, dapat dikatakan mereka tidak pernah kekurangan.
Tanah di daerah itu amat subur. Segala jenis tanaman dapat hidup. Mereka
sebagian besar hidup dari bertani.
Di
wilayah itu terdapat sembilan mata air, yang oleh penduduk setempat dikenal
dengan istilah “tuk sanga“. Tuk adalah bahasa Jawa yang artinya “mata air”;
sedangkan sanga artinya “sembilan”. Semula keberadaan ke sembilan mata air
tersebut tidak menjadi masalah. Bahkan sangat menguntungkan bagi penduduk
setempat, apalagi air yang keluar dari ke sembilan mata air tersebut sangat
jernih. Oleh penduduk, air tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mandi dan
mencuci serta memasak, melainkan juga untuk mengairi tanam-tanaman mereka.
Akan
tetapi, dua tiga bulan terakhir, keberadaan tuk sanga tersebut menimbulkan
masalah bagi penduduk. Masalahnya, air yang keluar dari ke sembilan mata air
itu amatlah banyak. Akibatnya air menggenang di berbagai tempat. Bahkan
kemudian terbentuklah sebuah danau yang semakin lama semakin besar.
Penduduk
pun dengan bergotong royong berusaha menutup lubang – lubang mata air itu,
tetapi selalu gagal. Tanah, bahkan batu – batu yang besar yang mereka gunakan
untuk menutup mata air-mata air itu selalu saja tenggelam. Masyarakat menjadi
panik dibuatnya.
Pada
saat masyarakat setempat hampir putus asa itu, munculah Raden Pandan Arang
beserta rombongannya. Sesaat Raden Pandan Arang mengambil air wudhu. Setelah
itu beliau menggelar sajadah dan sholat. Setelah sholat beliau berdo’a lama
sekali. Setelah selesai berdo’a, beliau berkata :
“Saudara-saudara,
sepeninggal kami dari desa ini, insya Allah mata air-mata air itu akan segera
tidak mengeluarkan air lagi. Cuma satu yang tersisa. Itu masih saudara-saudara
perlukan untuk kehidupan sehari-hari. Pesan saya, jagalah kebersihan mata air
tersebut, kedua, berilah nama desa ini Tambalang”
“Titah
Raden akan kami laksanakan. Akan tetapi, kalau boleh kami tahu, apa arti
Tambalang tersebut paduka?” tanya salah seorang penduduk. “Tembalang itu
berasal dari kata tambal dan hilang. Bukankah saudara-saudara berkali-kali
menambal lubang-lubang mata air-mata air tadi, tetapi selalu hilang bukan?”.
Raden
Pandan Arang beserta rombongan segera meninggalkan tempat itu. Keajaiban pun
terjadi. Bersamaan dengan kepergian beliau dari tempat itu, sedikit demi
sedikit air yang keluar dari mata air – mata air itu pun semakin mengecil.
Akhirnya berhenti sama sekali, bertepatan dengan hilangnya Raden Pandan Arang
beserta rombongan dari pandangan mata para penduduk. Tingal sebuah mata air
yang masih mengeluarkan air seperti yang dikatakan Raden Pandan Arang. Itu pun
dengan aliran yang tak seberapa besar.
Sejak
itu, daerah atau desa itu dikenal orang dengan nama Tambalang. Lama kelamaan
orang menyebutnya Tembalang, sekarang, daerah ini menjadi semakin dikenal dan
ramai karena terdapat kampus Universitas Diponegoro.
Konon, Raden Pandan Arang berkeinginan melakukan
perjalanan ke wilayah selatan Semarang. Dengan bekal secukupnya, Raden Pandan
Arang dan pengikutnya berjalan ke arah selatan. Perjalanan mereka tidak
selancar ketika melakukan perjalanan ke arah barat karena medan yang ditempuh
naik turun perbukitan. Namun, mereka tidak tampak keletihan.
Setelah lama rombongan Raden Pandan Arang dan pengikutnya
melakukan perjalanan, mereka memutuskan untuk beristirahat. Tak jauh dari
tempat mereka beristirahat, ada sebuah perkampungan yang cukup banyak
penduduknya. Mereka hidup rukun. Dari sisi ekonomi, dapat dikatakan mereka
tidak pernah kekurangan. Tanah di daerah itu sangat subur. Sebagian besar penduduknya
hidup dari bertani.
Di daerah tersebut terdapat sembilan mata air yang
bernama “Tuk Sanga”. Tuk dalam bahasa Jawa yang artinya mata
air, sedangkan sanga artinya
sembilan. Air dari sembilan mata air itu sangat jernih dan dipakai oleh warga
setempat untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun,
selama dua hingga tiga bulan terakhir, tuk
sanga menimbulkan masalah bagi penduduk. Air yang keluar dari kesembilan
mata air itu sangat banyak. Akibatnya, air menggenang di berbagai tempat. Para
penduduk bergotong royong berusaha menutupi lubang-lubang mata air itu, tetapi
selalu gagal.
Saat
mereka hampir berputus asa, datanglah Raden Pandan Arang dan pengikutnya.
Beliau mengambil air wudhu. Kemudian, beliau sholat dan berdoa. Setelah berdoa,
beliau mengatakan bahwa setelah beliau dan rombongannya meninggalkan desa itu,
mata air-mata air itu tidak mengeluarkan air lagi dan hanya satu yang tersisa.
Para penduduk diharapkan menjaga kebersihan. Beliau juga menitahkan untuk
memberi nama daerah tersebut dengan nama Tambalang.
Tambalang berasal dari kata tambal dan hilang. Nama itu diambil ketika penduduk berkali-kali menambal
lubang-lubang mata air tersebut, tetapi selalu hilang.
Setelah
Raden Pandan Arang dan pengikutnya meninggalkan daerah itu, keajaiban terjadi.
Mata air-mata air itu tidak mengeluarkan air lagi dan hanya satu yang masih
mengalir. Sejak itu, daerah itu dikenal orang dengan nama Tambalang. Lama-kelamaan, orang menyebutnya Tembalang. Sekarang, daerah ini menjadi semakin dikenal dan ramai
karena terdapat kampus Universitas Diponegoro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar