Pada zaman dahulu,
tinggallah seorang pendeta dengan kedua muridnya. Mereka tinggal di sebelah
timur lereng Gunung Ungaran. Sang pendeta bernama Resi Ajar, sedangkan kedua
muridnya bernama Sraya dan Sari.
Kondisi pertapaan
tampak begitu asri dan rapi. Di bagian utara dan selatan terlihat tebing batu
yang menjulang tinggi. Di bagian atas bentuknya meruncing seperti deretan pohon
cemara. Dari kejauhan, tampak pemandangan menyerupai deretan tombak yang
membentengi pemukiman sang pendeta dari mara bahaya.
Sedepa dari bagian
bawah tebing sebelah selatan, tujuh buah sendang berjajar memancarkan air
jernih pada permukaan tanah, tempat sang pendeta bersuci. Tepat di atasnya
sebatang pohon gurang dengan sulur-sulurnya mencelup ke air tergerak-gerak oleh
angina laksana tali-tali kail pancing.
Sanggar Resi Ajar dibuat
menyatu dengan pondok pemukiman. Tepat di atasnya, dipayungi oleh pohon
gambiran berdaun lebat. Letaknya di bawah tebing bagian utara. Di sini dibangun
sebuah pondok bagi sang pendeta untuk mengajar para muridnya.
Di tengah kesunyian
malam yang tenang dipayungi cahaya bulan purnama, dipanggillah Sraya dan Sari
untuk datang menghadap sang Resi. Dengan tenang dan penuh wibawa, sang pendeta
berbicara kepada keduanya.
“Angger Sraya dan engkau Sari,
tahukah mengapa pagi ini kalian kupanggil dating kemari?” Tanya sang Resi
kepada keduanya.
Kedua murid saling berpandangan.
“Ada beberapa hal penting yang akan
kusampaikan,” kata sang Resi perlahan.
Ia berhenti sejenak, menarik nafas
panjang kemudian melanjutkannya.
“Yang pertama, saya rasa bekalmu
berdua sudah cukup, banyak hal tentang pelajaran hidup dan kehidupan yang telah
kuberikan, tinggal bagaimana kalian menyempurnakan dan mengamalkannya untuk
kepentingan sesama. Yang kedua, aku merasa saat ini usia kalian sudah cukup
untuk membina rumah tangga. Saya perhatikan di antara kalian sudah saling
mengenal dan banyak kecocokan. Alangkah baiknya jika kalian menyatukan jiwa
raga untuk membina bahtera rumah tangga. Yang ketiga, sudah sampai saatnya aku
meninggalkanmu berdua. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk berdarma bakti
kepada sesama. Maka sebelum aku pergi dengan disaksikan bulan purnama, aku
ingin menikahkan kalian. Berangkatlah kalian untuk bersuci di Sendang
Pitu. Sambil menunggu kalian selesai bersuci, aku ingin bersemedi
sejenak untuk meraih kebersihan hati.”
Kedua murid itu
saling berpandangan, namun mau membantah juga tidak berani karena pada dasarnya
keduanya saling mencintai namun tidak berani mengungkapkan.
Bak kerbau dicocok
hidung, Sraya dan Sari pun berangkat melaksanakan tugas dari gurunya dan segera
kembali menghadap setelah tugas yang telah selesai mereka kerjakan. Setelah
muridnya kembali menghadap, Resi Ajar membuka matanya dengan tersenyum arif.
Kedua telapak tangannya diletakkan di atas kepala kedua muridnya sambil
berucap,
“Aku restui kalian berdua sebagai
suami-istri”, kata Resi Ajar kemudian diam sesaat.
“Sebelum aku pergi meninggalkan
kalian, ada hal penting lain yang ingin kusampaikan padamu”, kata Resi Ajar.
“Bapa Guru!” ujar Sari kaget. “Guru,
kami masih membutuhkan engkau. Kami yang sudah menganggapmu sebagai ayah
kandung kami sendiri yang menyayangi dan setia merawatku. Kumohon guru, jangan
tinggalkan kami!” suara Sari terhenti karena tidak kuat menahan sedih.
“Tenang, tenang Sari, juga engkau
Sraya. Sampai kapanpun aku selalu menyayangi kalian berdua. Kalian berdua
selama di padepokan ini sudah menerima ilmu yang tidak sedikit. Meski belum
seluruh ilmu yang kumiliki kuberikan pada kalian dan kurasa belum sampai
waktunya. Untuk itu, kuharap kalian dapat memenuhinya sendiri”, jelas sang
pendeta seraya pergi masuk ke sanggar.
Tak lama, Resi Ajar
segera keluar menemui muridnya lagi. Kedua muridnya langsung memberikan tanda
hormat.
“Dengarkan baik-baik, aku ingin
melanjutkan apa yang seharusnya kalian terima pagi ini”, kata Resi Ajar sambil
duduk di hadapan kedua muridnya.
“Mungkin ini yang terakhir kalinya.
Sepeninggalku kelak, saat bulan purnama, berangkatlah engkau Sraya ke arah
barat dari tempat ini. Carilah bunga Kalakecika dan Lanceng Putih. Bulatkan
tekadmu meski harus menuruni lembah curam dan mendaki bukit-bukit terjal. Tak
luput pula engkau akan mengalami peristiwa-peristiwa pahit”, demikian kata-kata
yang diucapkan sang Resi.
“Kalau itu semua dapat engkau lewati
satu demi satu, niscaya engkau akan meneguk manisnya kehidupan. Engkau harus
bisa menemukannya. Keduanya menjadi awal langkah untuk hidup bahagia. Kuatkan
dan teguhkan hatimu, anakku”, lanjut Resi Ajar.
“Saya berjanji akan menjalankan
segala titah Resi”, sahut Sraya dengan kepala yang masih tertunduk.
“Selain itu, Sraya. Aku juga
menitipkan Sari kepadamu”, ujar Resi Ajar lagi.
“Maksud Resi?” Tanya Sraya.
“Hiduplah kalian sebagai pasangan
suami-istri”, jawab sang Resi. Sari melirik ke arah rekan seperguruannya ini.
Sraya pun menoleh
ke arah gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Dipandangnya wajah Sari
dalam-dalam. Di lubuk hatinya, Sraya sudah memendam rasa sayang kepada gadis
ini. Namun, ia belum berani mengungkapkan perasaannya.
“Kamu tidak perlu heran, Sraya. Sari
di samping murid asuhanku sebagaimana engkau. Sebenarnya dia adalah”, penjelasan
Resi Ajar terhenti. Pikirannya melayang kepada bayangan Lokandi, mendiang istri
yang sangat dicintainya.
“Dia adalah putriku sendiri” lanjut
sang Resi dengan perasaan hati yang coba dikuatkan.
“Anakku bersama istriku, Lokandi”,
lanjut Resi Ajar.
Mendengar
pernyataan Resi Ajar, tak tahanlah Sari membendung perasaannya. Tangannya
gemetar sambil menatap wajah tua di depannya, sosok pendeta yang berhati mulia.
Air mata mulai bercucuran di pipinya. Sontak ia pun memeluk sang Resi sekaligus
ayah kandungnya itu. Namun sayang, saat itu
pulalah Resi Ajar muksa.
Sementara itu,
Sraya seolah-olah seperti orang dungu yang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Sedangkan Sari masih tersendat-sendat dalam isakan tangisnya. Masing-masing
dengan perasaannya sendiri-sendiri. Setelah agak tenang, barulah Sraya
mendekati Sari. Ia menggamit tangan gadis itu dan menuntunnya ke pondok.
Sepeninggal Resi
Ajar, mereka berdua hidup rukun sebagai suami-istri. Sraya sangat mencintai
Sari, begitu juga sebaliknya. Pondok yang ditinggalkan Resi Ajar tetap terlihat
asri dan bersih. Setiap hari, suami-istri itu bahu-membahu merawat pertapaan
peninggalan Resi Ajar.
Suatu ketika,
sehabis pulang berburu, Sraya menemukan Sari diam termenung di beranda pondok.
Jarum yang diigunakan untuk menjahit masih
dipegangnya, sedangkan baju milik Sraya dibiarkannya tergeletak di kursi.
“Sari, apa yang sedang kamu
pikirkan? Kau tampak sangat sedih. Hal itu membuatku bersedih hati”, ujar
Sraya.
“Kakang, masihkah kakang ingat pesan
ayahanda tentang Kalakecika dan Lanceng Putih?”, kata Sari tanpa menoleh ke
arah suaminya itu.
“Iya, aku selalu ingat. Kadang, aku
merasa berada di persimpangan jalan, menghadapi kenyataan antara cintaku
padamu, sehingga aku khawatir meninggalkanmu. Di sisi lain, aku juga berjanji
untuk melaksanakan perintah guru. Sampai sekarang, aku masih belum tega
meninggalkanmu seorang diri”, kata Sraya sambil tangannya merangkul pundak
istrinya.
Diciumnya kening istrinya sambil
melanjutkan pembicaraan, ”Tetapi kita harus mematuhi perintah guru yang
sekaligus ayahandamu. Sekarang waktunya aku harus pergi. Besok malam, saat
bulan purnama, aku akan segera berangkat. Jaga dirimu baik-baik ya”
Malam harinya,
dengan perasaan berat, Sraya berpamitan kepada istrinya. Tak lupa, Sari
menyiapkan perbekalan makanan maupun pakaian yang diperlukan. Di gapura
pertapaan, Sari melepas kepergian suaminya itu. Ia percaya, Tuhan Yang Maha
Agung akan mempertemukan mereka kembali.
Seperti apa yang
diperintahkan sang Resi, Sraya menuju ke arah barat. Petang berganti siang,
siang pun mulai berganti petang kembali. Disusurinya lembah dengan hanya
diterangi sinar bulan. Ia berjalan tak kenal lelah. Menjelang matahari terbit,
sampailah Sraya di suatu tempat yang sangat sepi. Ia berhenti karena di
depannya menjulang sebuah tebing tinggi. Tentu saja, perjalanannya terhalangi.
Ia lantas mencari tempat untuk beristirahat.
Sementara hari agak
siang serta kekuatan telah pulih kembali, mulailah Sraya mencoba mendaki tebing
itu. Dengan susah-payah dia dapat mendaki lewat sebelah utara. Malam harinya,
sampailah ia di puncak bukit ini. Sraya bersemedi untuk mendapatkan petunjuk
tentang sesuatu yang sedang ia cari.
Dalam semedinya, ia
seakan dibawa hidup di alam yang lain. Ada seekor kera berkepala anjing
menubruknya dengan ganas. Sraya mengelak dan mengadakan perlawanan. Berkat ilmu
yang didapatkan dari sang Pendeta, binatang aneh itu dapat dikalahkan. Sejurus
kemudian, sekonyong-konyong bermunculan makhluk-makhluk lain yang belum pernah
dilihatnya seumur hidupnya. Kawanan ini menyerang secara bersama-sama, namun
dapat dikalahkan satu per satu.
Dengan hilangnya
makhluk aneh terakhir, terdengarlah suara petunjuk tentang apa yang ia cari.
Lanceng putih berada di sebuah air terjun, namanya Curug Benawa. Sedangkan
bunga Kalakecika harus dicari ke arah timur di air terjun yang lain pula.
Seketika itu, Sraya tersadar dari semedinya.
Kemudian Sraya
menuju ke arah barat, berhari-hari bahkan berminggu-minggu ia berjalan dengan
berbagai rintangan. Suatu siang, Sraya sampai di suatu lembah yang cukup
landai, terdengarlah suara gemericik air. Ia pun menuju ke arah suara air itu.
Tak lama kemudian, terlihatlah air terjun yang tinggi dari suatu tebing. Dengan
hati-hati, dicapainya pertengahan tebing itu, sebagaimana petunjuk yang ia
terima. Walau tebing itu licin, dicarinya kesana-kemari. Akhirnya, ia menemukan
Lanceng Putih yang masih ada di sarangnya. Dengan membawa Lanceng Putih, Sraya
melanjutkan perjalanan lewat bukit lain yang ke arah timur.
Lain pula keadaan
Sari di pertapaan, sudah sekian lama Sari menunggu kedatangan suaminya. Pada
suatu malam, datanglah jin Barok yang menyamar menjadi manusia. Kedatangan Barok
itu bermaksud meminang Sari atas perintah rajanya.
“Maaf, aku tidak bisa memenuhi
permintaanmu. Aku sudah bersuami”, ujar Sari tegas.
Mendengar keputusan
Sari, Barok tidak mau menyerah begitu saja. Ia tidak mau pulang tanpa membawa
hasil.
“Oh Sari yang cantik jelita,
bersedia atau tidak, engkau harus kubawa pulang sekarang juga!” demikian ucapan
jin itu dengan paksa.
“Tidak sudi!”, teriak Sari sambil
mengadakan perlawanan.
Perlawanan Sari
ternyata sia-sia, badan Barok jauh lebih kuat daripada dirinya. Sari segera
meloloskan diri. Barok pun terus mengejarnya. Sampailah Sari di sebuah lereng
bukit yang terputus dari lereng bukit yang lainnya. Terdesak oleh keadaan ini,
dilepaskannya kendit yang melilit
perutnya untuk dilemparkan ke lereng bukit seberang. Seketika itu juga, kendit miliknya berubah menjadi jembatan
yang dapat menghubungkan kedua bukit. Adanya jembatan ajaib itu membuat Sari
dapat selamat sampai ke seberang.
Sari terus lari
menyelamatkan diri. Barok juga tidak berhenti mengejar. Suatu kali, kain yang
dikenakannya berhasil diraih oleh utusan tersebut. Sari meronta sekuat tenaga.
Semakin kuat Sari berusaha melepaskan diri, semakin garang pula jin itu menarik
kainnya.
Akhirnya, kain
jarik itu terlepas dari tubuh Sari. Ia pun terjatuh. Barok tertawa
terbahak-bahak sambil tangannya mengangkat tinggi-tinggi kain milik Sari.
“Hahaha! Mau pergi ke mana kau?
Silakan ambil ini dan segeralah kemari.
Janganlah lari wahai wanita cantik!” ujar Barok tertawa penuh kemenangan.
Sari segera
beringsut dari tempat itu. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang tanpa berbusana, ia
segera mengambil langkah seribu. Sesekali ia teringat pada mendiang ayah dan
suami yang dicintainya. Malang bagi Sari, akibat larinya tanpa arah, ia
terjerumus ke sebuah lembah dengan air terjun di sisinya, sehingga tubuhnya
tidak terlihat oleh Barok.
Barok kehilangan
jejak dan mengamuk sejadi-jadinya. Ia merusak apapun yang menghalangi jalannya.
“Kurang ajar kau, Sari! Engkau sudah
mengecewakanku!” kata utusan itu dengan marah.
Dari arah kejauhan,
dilihatnya seorang laki-laki tengah berjalan ke arah tempat Barok berdiri. Orang
itu adalah Sraya. Jin itu melampiaskan kemarahannya kepada Sraya.
“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?
Berani-beraninya engkau kemari, apa kau mau menantangku?” bentak jin itu.
“Aku hanyalah pengembara biasa. Aku
datang dengan maksud baik. Tetapi jika engkau tidak terima, silakan saja!”
jawab Sraya tetap tenang.
Kemudian, keduanya
terlibat perkelahian. Sraya memiliki ilmu yang jauh melebihi Barok, sehingga
Barok dapat dikalahkan.
Sraya melanjutkan
perjalanan menuju ke tempat tumbuhnya bunga Kalakacika. Sesampainya di tempat
tujuan, ia kaget melihat sosok wanita tanpa busana berendam dalam sendang
sambil menangis. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangannya.
“Maaf, siapa engkau? Mengapa kau
bisa berada di tempat ini?”, Tanya Sraya dengan wajah penuh keheranan.
Sari terkejut
mendengar suara yang begitu dikenalnya. Perlahan-lahan, kedua telapak tangan
yang menutupi wajahnya diturunkan. Wajah cantik wanita itu mulai terlihat. Hati
Sraya berdegup kencang.
“Oh Sari. Kaukah itu? Mengapa kau
berada di sini? Apa yang terjadi” ujar Sraya.
“Betul, kakang. Ini aku, Sari”,
jawab wanita itu.
Sraya segera
mengambil pakaian yang ada di buntelan miliknya. Ia mendekat ke arah Sari.
“Pakailah dulu pakaian ini, Sari.
Setelah itu, ceritakanlah apa yang terjadi”, kata Sraya lembut.
“Terima kasih, Kanda”, balas Sari
malu-malu sambil meraih kain pemberian Sraya dan mengenakannya.
Akhirnya, Sari
menceritakan apa yang terjadi pada Sraya.
“Sungguh kanda tidak menyangka
sebegitu indah pertemuan kita. Sekarang mari kita bersemedi karena tugas kita
untuk mendapatkan bunga Kalakacika belum selesai”, kata Sraya.
Setelah beberapa
waktu lamanya mereka bersemedi, keduanya berhasil mendapatkan bunga Kalakacika.
Menurut cerita, di dalam bunga ini berisi belalang. Apabila bunga itu mekar,
maka berloncatanlah binatang itu ke air terjun. Kalakacika mengandung makna
masa yang indah akan datang, bila penghalang yang disimbolkan oleh belalang itu
pergi (berloncatan keluar).
Akhirnya, Sraya dan
Sari saling berpelukan dan bahagia selamanya.
***
Sampai sekarang,
air terjun tempat ditemukannya bunga Kala Kacika terkenal dengan nama Semirang, berasal dari kata wirang (malu) karena Sari sampai ke tempat
tersebut dalam keadaan telanjang. Menurut cerita, mandi di air terjun Semirang
akan membuat awet muda. Sedangkan jembatan yang berasal dari kendit milik Sari
terkenal dengan nama Banjaran Simbar.
Selain itu, lokasi pertemuan antara utusan jin dengan Ciptasraya hingga sekarang disebut dengan nama sentana layu, yaitu dari kata sentana (utusan) dan mlayu (lari), artinya seorang utusan
yang lari (mlayu).
Hingga sekarang,
banyak pengunjung datang ke air terjun Semirang untuk mandi dan menikmati
pemandangan indah di sekitar wilayah ini.
Sumber:
Kumpulan Cerita Rakyat di Kabupaten Semarang tahun 2009
PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG
DINAS PEMUDA OLAHRAGA, KEBUDAYAAN,
DAN PARIWISATA
Jl. A. Yani 53, Ungaran 50511
