MEMBANDINGKAN PUISI INDONESIA DENGAN PUISI TERJEMAHAN


KRAWANG-BEKASI 
Karya : Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami. 
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa 
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan 
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata 
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir 
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Sumber : blogbintang.com/kumpulan-puisi-chairil-anwar




DI LUAR KEPUTUSASAAN
Karya : Rabindranath Tagore
Dalam harap yang menyekap, aku pergi dan mencari dia di seluruh sudut ruangan; tak kutemukan dia di sana.
Rumahku kecil, dan apa yang pernah pergi tidak akan kembali.
Tetapi istana-Mu tanpa batas, Tuhan; dan ketika mencari dia, aku telah sampai di pintu-Mu.
Aku berdiri di bawah tirai langit malam-Mu, dan aku buka mataku yang riang menatap wajah-Mu.
Aku telah sampai pada kedipan keabadian tempat tak satu pun dapat menghilang tiada harap, tiada kebahagiaan, tiada wajah yang bersimbah air mata.
Oh, kosongkan hidupku yang hampa ke dalam lautan itu, damparkan ia ke kepenuhan yang terdalam. Biarkan aku, sekali saja, merasakan sentuhan manis yang hilang dalam keseluruhan semesta.

·           Kegiatan
Carilah satu buah puisi Indonesia dan satu buah puisi terjemahan! Kemudian, jawablah soal-soal di bawah ini!
1.       Bagaimanakah penyimpangan bahasa yang terjadi dalam puisi Indonesia dan puisi terjemahan tersebut?
2.       Jelaskan makna yang terkandung dalam puisi Indonesia dan puisi terjemahan tersebut!
3.       Buatlah perbandingan atas penyimpangan-penyimpangan bahasa dan kandungan nilai moral dari puisi Indonesia dan puisi terjemahan tersebut dalam format berikut ini!
Perbandingan
Penyimpangan Leksikal
Penyimpangan Sintaksis
Penyimpangan Fonologi
Penyimpangan Semantis
Makna
Nilai-Nilai Etika


Puisi Indonesia






























Puisi terjemahan





























4.       Berikan komentar atau tanggapan atas persamaan dan perbedaan puisi Indonesia dan puisi terjemahan tersebut!
5.       Buatlah sebuah simpulan atas perbandingan antara puisi Indonesia dan puisi terjemahan tersebut!
Jawaban :
1.         Beberapa jenis penyimpangan bahasa tersebut yaitu :
·         Penyimpangan leksikal, yaitu penyimpangan makna kata-kata dari makna yang ada dalam kamus.
ü   Pada puisi Indonesia yang berjudul “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar terdapat penyimpangan leksikal pada :
a.       Bait pertama baris pertama pada kata ‘terbaring’ yang maknanya menyimpang dari makna yang ada di dalam kamus ;
b.       Bait kedua baris kedua pada kata ‘berdetak’ ;
ü   Pada puisi terjemahan yang berjudul “Diluar Keputusasaan” karya Rabindranath Tagore terdapat penyimpangan leksikal pada :
a.       Baris pertama pada kata ‘menyekap’;
b.       Baris kelima pada kata ‘bersimbah’.
·         Penyimpangan sintaksis, yaitu penyimpangan bahasa dalam puisi yang terjadi dalam struktur kalimat. Hal ini terjadi karena kata-kata dalam puisi bukan membangun kalimat, namun membangun larik-larik. Dapat kita lihat, penyair sering lupa menggunakan huruf kapital di awal kalimatnya dan tanda titik untuk mengakhiri kalimat tersebut.
Ä   Pada puisi Indonesia yang berjudul “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar terdapat penyimpangan sintaksis pada :
a)      Bait pertama baris pertama, pada akhir kalimat penulis tidak menggunakan tanda titik (.) ;
b)     Bait pertama baris kedua, pada awal kalimat penulis tidak menyertakan huruf kapital ;
c)      Bait kedua baris pertama dan kedua, penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya ;
d)     Bait ketiga baris pertama dan kedua, penulis juga tidak menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya ;
e)      Bait keempat baris pertama dan kedua penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya ;
f)       Bait kelima pada semua baris kecuali baris kedua, penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya. Pada baris kedua, penulis tidak menyertakan huruf kapital di awal kalimat.
g)      Bait keenam pada semua baris, penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya.
h)     Bait ketujuh pada semua baris, penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya. Pada baris keempat dan kelima, penulis tidak menyertakan huruf kapital di awal kalimatnya ;
i)       Baris kedelapan pada semua baris, penulis lupa menyertakan tanda titik di akhir kalimatnya.
Ä   Pada puisi terjemahan yang berjudul “Diluar Keputusasaan” karya Rabindranath Tagore terdapat penyimpangan sintaksis pada kata Dia yang berarti Tuhan, penulis tidak menulis dengan huruf kapital.
·         Penyimpangan fonologi, yaitu penyimpangan yang terjadi dalam lingkup bunyi. Hal ini terjadi untuk kepentingan rima.
T  Pada puisi Indonesia yang berjudul “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar terdapat penyimpangan fonologi pada :
a.       Bait pertama baris keempat pada kata ‘mendegap’ ;
b.       Bait kedua baris kedua pada kata ‘berdetak’.
T  Pada puisi terjemahan yang berjudul “Diluar Keputusasaan” karya Rabindranath Tagore terdapat penyimpangan fonologi pada kata ‘menyekap’ dan ‘bersimbah’.
·         Penyimpangan semantis, yaitu penyimpangan bahasa dalam tataran makna. Maksudnya, makna dalam puisi tidak menunjuk pada satu makna, namun menunjuk pada makna ganda.
¯  Pada puisi Indonesia yang berjudul “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar terdapat penyimpangan semantis pada :
a.       Bait pertama baris pertama pada kata ‘terbaring’ yang tidak menunjuk pada satu makna, namun menunjuk pada makna ganda;
b.       Bait pertama baris ketiga pada kata ‘deru’ ;
c.       Bait kedua baris kedua pada kata ‘berdetak’ ;
d.        Bait ketiga baris kedua pada kata ‘kerja’ ;
e.       Bait keempat baris kedua pada kata ‘kepunyaanmu’ ;
f.        Bait keempat baris ketiga pada kata ‘nilai’ ;
g.       Bait kelima baris keempat pada kata ‘berkata’ ;
h.       Bait ketujuh baris kedua pada kata ‘jiwa’ ;
i.         Bait kedelapan baris kedua pada kata ‘arti’ ;
j.         Bait kedelapan baris ketiga pada kata ‘pernyataan’ ;
k.       Bait tertentu yang terdapat pada kata ‘kami’.
¯  Pada puisi terjemahan yang berjudul “Diluar Keputusasaan” karya Rabindranath Tagore terdapat penyimpangan semantis pada :
a.       Baris pertama pada kata ‘menyekap’ dan ‘dia’ ;
b.       Baris ketiga pada kata ‘istana’ dan ‘pintu’ ;
c.       Baris keempat pada kata ‘tirai’ dan ‘wajah’ ;
d.       Baris kelima pada kata ‘bersimbah’ ;
e.       Baris keenam pada kata ‘lautan’, ‘damparkan’, dan ‘manis’.
  1. Makna yang terkandung dalam puisi Indonesia yang berjudul “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar :
·    Puisi ini menyatakan bahwa mereka pahlawan tak dikenal yang telah berjuang antara krawang-bekasi tidak bisa berjuang lagi karena mereka telah gugur.
·       Namun mereka ingin dikenang atas jasa mereka.
·        Mereka sudah berjuang tapi kerja mereka belum selesai karena belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa teman seperjuangan mereka.
·        Mereka, para pahlawan ini, sekarang hanyalah tulang belulang namun kitalah yang harus menentukan harga diri mereka.
·        Mereka, para pahlawan menginginkan kita untuk meneruskan perjuangan mereka dan berkata untuk mereka.
·       Mereka menginginkan kita terus meneruskan semangat juang mereka.
·        Dan juga mereka ingin kita menjaga dan menghargai pahlawan bangsa dan mereka yang telah berjasa untuk bangsa.  
Makna yang terkandung dalam puisi terjemahan :
3.                    





4.    Menurut pendapat saya persamaan dan perbedaan antara puisi Indonesia dan puisi terjemahan hampir sama, kedua puisi tersebut lebih mengutamakan rimanya agar puisi tersebut menjadi puisi yang indah dan bermakna. Akan tetapi, kedua puisi tersebut banyak terdapat penyimpangan-penyimpangan bahasa, diantaranya penyimpangan leksikal, sintaksis, fonologi, serta semantis.
5.     Kesimpulan yang dapat saya ambil dari perbandingan antara puisi Indonesia dengan puisi terjemahan adalah kedua puisi tersebut banyak terdapat penyimpangan-penyimpangan bahasa, diantaranya penyimpangan leksikal, sintaksis, fonologi, serta semantis. Oleh karena itu, setiap puisi yang ditulis oleh penyair mempunyai ciri khas masing-masing yang menunjukkan karakter penyairnya.

2 komentar: