Keraton Yogyakarta

A. Arti Keraton Yogyakarta
Keraton berasal dari kata: ka + ratu + an, juga disebut dengan kadaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Arti luas dari kata “keraton” adalah lingkungan seluruh struktur dan bangunan wilayah keraton mengandung arti tertentu yang berkaitan dengan salah satu pandangan hidup jawa yang sangat esensial, yaitu Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya menusia setelah mati).  Jadi, keraton adalah sebuah istana yang mengandung arti yang meliputi arti keagamaan, arti filsafat, dan arti kulturil (kebudayaan).

Garis besarnya, wilayah Keraton Yogyakarta yang memanjang sepanjang 5 km, dari Panggung Krapyak di sebelah selatan hingga Tugu Keraton di sebelah utara, terdapat garis linear dualisme terbalik yang dapat dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara mulai dari Panggung Krapyak melambangkan arti proses terjadinya manusia, mulai ketika masih berada di alam arwah (tempat tinggi), sampai hadir ke dunia lantaran ibu dan bapak, sedangkan raja atau sultan adalah lambing jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.
B.     Fungsi Keraton Yogyakarta
1.      Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya;
2.      Sebagai pusat pemerintahan;
3.      Sebagai pusat kebudayaan dan pengembangannya;
4.      Pada zaman kemerdekaan, mulai dibuka untuk kepentingan umum, seperti kegiatan pariwisata, kegiatan ilmu pengetahuan, serta kegiatan lain yang ada hubungan dengan kepentingan masyarakat.
5.      Merupakan museum perjuangan bangsa karena Yogyakarta dengan keratonnya pernah digunakan sebagai tempat kegiatan perjuangan fisik maupun kegiatan pemerintahan ketika ibukota Republik Indonesia berada di Yogyakarta.
C.    Lambang Kerajaan
Lambang kerajaan berupa benda-benda yang selalu dikeluarkan pada waktu upacara-upacara resmi dan selalu menyertai sultan, disebut ampilan dalem. Benda-benda tersebut terbuat dari emas murni bertahtakan berlian dan biasanya dibawa oleh delapan orang abdi dalem perempuan yang disebut manggung, masing-masing tugasnya adalah membawa benda yang berbentuk:
1)      Banyak atau angsa adalah simbol kesucian dan kewaspadaan;
 
2)      Dhalang atau kijang adalah simbol kegesitan dan kebijaksanaan;
3)      Sawung atau ayam jantan adalah simbol keberanian;
4)      Galing atau merak adalah simbol kewibawaan;
5)      Hardawalika  atau naga di dalam mitologi jawa adalah penyangga atau pembawa dunia. Artinya raja adalah pembawa atau penyangga segala tanggung jawab;
6)      Kacu mas atau sapu tangan emas adalah simbol dari penghapus segala kotoran, baik jasmaniah maupun rohaniah di dalam pemerintahan maupun ketatanegaraan, dan sebagainya;
 
7)      Kutuk atau kotak merupakan simbol dari daya pemikat atau penarik; dan


8)      Kandhil atau lentera merupakan simbol dari penerangan hati rakyat. 
D.    Arsitektur Keraton Yogyakarta
Arsitek kepala istana ini adalah Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai “arsitek” dari saudara Pakubuwono II Surakarta. Oleh karena itu, bangunan Keraton Yogyakarta seperti arsitektur Eropa karena dalam pembuatannya bekerja sama dengan pihak eropa.
Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta tahun 1921-1939).
Secara umum, tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut renteng atau baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.
E.     Relasi Mistis antara Keraton Yogyakarta dengan Nyi Roro Kidul
Sebagian orang mungkin akan menyangkal keberadaan cerita mengenai Nyi Roro Kidul. Lain halnya dengan orang-orang keraton, khususnya Keraton Yogyakarta. Orang-orang yang hidup di lingkungan Keraton Yogyakarta meyakini tentang kebenaran cerita ini. Menurut sebagian pengamat kebudayaan Jawa, bagi para raja jawa, berkomunikasi dengan para makhluk halus dan Nyi Roro Kidul, khususnya, merupakan salah satu upaya untuk memperoleh kekuatan batin dalam mengelola negara. Para raja jawa itu pun meyakini bahwa sebagai kekuatan yang kasat mata, Nyi Roro Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan yang berlaku secara turun-temurun terhadap Nyi Roro Kidul masih diaktualisasikan dengan baik oleh masyarakat dalam berbagai macam kegiatan sampai saat ini. Salah satu contoh yang mungkin sering kita dengar adalah kegiatan labuhan. Labuhan adalah sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan kota Yogyakarta. Labuhan diadakan dalam setiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, yang tanggal maupun tahun kelahirannya dihitung menurut perhitungan Saka (tahun Jawa). Upacara labuhan ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.
Wujud dan aktualisasi dari kepercayaan masyarakat terhadap Nyi Roro Kidul juga diwujudkan lewat tari-tarian. Selama ini, dikenal Tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang, yang keduanya diselenggarakan untuk menghormati dan memperingati sang Ratu.
Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi secara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senapati bahwa akan menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka.
Salah satu bentuk penghayatan yang dilakukan oleh keraton, baik Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta adalah pementasan tarian yang paling sakral di Keraton, yakni Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun kali saat peringatan hari penobatan para raja. Dalam tarian itu, sembilan orang penari mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa, serta mengundang Nyi Roro Kidul dan menikahi susuhan. Konon, sang ratu akan muncul secara gaib dalam wujud penari kesepuluh yang terlihat berkilauan dibandingkan penari lainnya.
Sumber:
Brongtodiningrat. Tanpa Tahun. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta
Heryanto, dkk. 2010. Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo.


                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar